Senin, 30 Mei 2016

Print Friendly and PDF

HTML BAGI PEMULA

HTML merupakan singkatan dari HyperText Markup Language adalah script untuk menyusun dokumen-dokumen Web.mendesain HTML berarti melakukan suatu tindakan pemrograman. Namun HTML bukanlah sebuah bahasa pemrograman. Namun HTML hanyalah berisi perintah-perintah yang telah terstruktur berupa tag-tag penyusun. Menuliskan tag-tag HTML tidaklah sebatas hanya memasukkan perintah-perintah tertentu agar HTML kita dapat di akses oleh browser. Mendesain HTML adalah  sebuah seni tersendiri. Homepage yang merupakan implementasi dari HTML adalah refleksi dari orang yang membuatnya. Untuk itu kita perlu mendesainnya dengan baik agar para pengunjung homepage yang kita buat merasa senang dan bermanfaat.
Mendesain HTML dapat dilakukan dengan dua cara:
  1. Menggunakan HTML Editor, seperti Microsoft FrontPage, Adobe Dreamweaver, dan lain-lain.
  2. Dengan cara menuliskan sendiri secara manual satu persatu tag-tag HTML ke dalam dokumen HTML.
Kedua cara diatas memiliki Kelebihan dan kekurangan. Cara pertama kelebihannya adalah HTML Editor merupakan sebuah program yang khusus didesain untuk membuat, melakukan editing bahkan mem-publish ke internet. Dengan kemampuannya menggabungkan kemudahan dan kecanggihan teknologi internet ke dalam dokumen HTML maka cara ini sangat disukai oleh para pemula dan desainer yang tidak ingin belajar lebih mendalam mengenai HTML. Sedangkan cara kedua adalah menuliskan secara manual satu persatu tag-tag HTML. Hal ini sangat disarakan sulit dikarenakan akan memakan tenaga dan waktu ekstra untuk melakukannya, ditambah lagi Anda harus melakukan cara-cara konvensional untuk melihat hasilnya pada web browser. Namun pada cara kedua adalah dasar dari segala bentuk HTML yang akan Anda pelajari, karena dengan cara itulah Anda akan lebih paham mengenai cara kerja dan berbagai perintah yang biasa dipakai pada bahasa HTML.

Untuk Lebih Jelasnya silahkan Unduh : Belajar HTML

Print Friendly and PDF

Serangan OPT Bulan Mei 2016

Pernyataan yang dilkeluarkan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman tentang serangan OPT yang dimuat oleh Tabloid Sinar Tani beberapa waktu yang lalu, memang bukanlah prediksi semata, hal ini dibuktikan dilapangan dengan adanya beberapa OPT yang sudah mulai menyerang, salah satunya adalah Penggerek batang dan ada dibeberapa lokasi yang terserang penyakit Blas.

Dihimbau kepada para petani agar rutin dalam memeriksa tanaman padi saat ini dan segeralah lakukan penanggulangan bila terjadi gejala serangan tersebut.

Mintalah bantuan petugas OPT atau penyuluh pertanian dalam penanggulangan dan pencegahan serangan Hama dan Penyakit yang  menyerang dilingkungan pertanian anda.

Lihat Tabloid Sinar Tani : http://www.tabloidsinartani.com/read-detail/read/serbuan-opt-mengincar-saat-la-nina/

Print Friendly and PDF

Serbuan OPT Mengincar Saat La Nina

Hujan yang berkelanjutan saat musim kemarau di satu sisi menguntungkan karena petani bisa terus menanam padi. Tapi di sisi lain juga harus diwaspadai. Pasalnya musim tanam yang berkesinambungan akan meningkatkan perkembangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Karena itu Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat Pekan Peramalan OPT di Subang, pekan lalu, mengingatkan agar petugas pengendali OPT (POPT) segera mengantisipasi serangan hama dan penyakit. “La Nina yang ditandai dengan hujan berkesinambungan akan membuat musim tanam berlangsung terus menerus. Ini harus diantisipasi karena OPT pun akan berjalan terus,” katanya.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, tahun-tahun sebelumnya luas serangan OPT lebih dari 2% total luas areal tanam. Sedangkan tahun 2015 mencapai 1,3%. Tahun ini Amran menargetkan luas serangan OPT hanya 0,5% dari total luas tanam.

“Tahun lalu, serangan OPT terputus karena ada El Nino. Tahun ini harus lebih ketat dalam mengawasi OPT karena La Nina. Jangan sampai di atas 1%. Jika sudah menyebar, maka serangannya akan makin meluas. Jadi kita harus preventif,” tegasnya.

Amran mencontohkan, satu pasang hama tikus dalam satu musim tanam bisa bertambah menjadi 824 ekor. Jika kemudian tidak diantisipasi, maka populasinya pada musim tanam berikutnya akan semakin besar. “Biaya untuk pengendaliannya akan makin besar. Jadi prinsip pengendalian hama penyakit tanaman itu preventif,” tegasnya.

Sumber: http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/serbuan-opt-mengincar-saat-la-nina/

Print Friendly and PDF

TEKNOLOGI SRI

Budidaya padi organik dengan metode SRI
Disusun oleh Syahroni

Pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas cara budidaya padi organik dengan metode System of Rice Intensification (SRI). Metode ini merupakan suatu inovasi dalam teknik budidaya padi. Di beberapa tempat, SRI dilaporkan telah berhasil meningkatkan produktivitas padi hingga dua kali lipat.

SRI pertama kali dikembangkan di Madagaskar oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis. Dia mempublikasikan metode temuannya pada tahun 1983. Oleh penemunya, metodologi ini disebut Ie Systme de Riziculture Intensive (bahasa Perancis). Dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.

Pada tahun 1994 sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Tefy Saina dan Cornel International Institute for Food and Agriculture Development (CIIFAD) mulai bekerjasama dalam pengembangan SRI. Dengan bantuan CIIFAD, metode SRI menyebar ke negara lain. Nanjing Agricultural University di Cina dan Agency for Agriculture Research and Development (AARD ) melakukan percobaan pertama di luar Madagaskar pada tahun 1999.

Apa hubungan SRI dengan budidaya padi organik?

Beberapa praktek di berbagai negara menemukan bahwa metode SRI berhasil menekan serendah mungkin input produksi.  Hal ini sejalan dengan upaya para aktivis pertanian organik untuk mengolah tanah secara berkelanjutan. Hasilnya, ditemukan hubungan konservasi air pada sistem budidaya padi SRI dengan upaya konservasi tanah yang dianut pada budidaya padi organik. Saat ini, banyak para petani organik yang menerapkan budidaya padi dengan metode SRI.

Pola pertanian padi SRI organik merupakan perpaduan antara metode budidaya padi SRI yang pertamakali dikembangkan di Madagaskar, dengan metode budidaya padi organik dalam praktek pertanian organik. Metode ini akan meningkatkan fungsi tanah sebagai media tumbuh dan sumber nutrisi tanaman. Dengan sistem SRI organik daur ekologis akan berlangsung dengan baik karena memanfaatkan mikroorganisme tanah secara natural. Pada gilirannya keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan akan sellalu terjaga. Di sisi lain, produk yang dihasilkan dari metode ini lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.

Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan produk akhir yang dihasilkan, yang notabene lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.

Pemilihan metode budidaya padi organik secara SRI bisa menghasilkan produk akhir berupa beras organik yang memiliki kualitas tinggi sebagai beras sehat, dilihat dari beberapa aspek berikut:
Aspek lingkungan, dengan menghilangkan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dan manajemen penggunaan air yang terukur secara tidak langsung telah membantu mengkonservasi lingkungan.
Aspek kesehatan, bagi konsumen produk yang dihasilkan akan lebih sehat dan menyehatkan, karena tidak terkandung residu zat kimia berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia.

Produktivitas tinggi, bagi produsen atau petani, penerapan metode ini bisa meningkatkan hasil panen yang pada giliranya menghasilkan keuntungan maksimal.

Kualitas yang tinggi, produk  yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan produk konvensional, sehingga harganya pun tentunya akan lebih baik.

Prinsip budidaya padi organik SRI
  1. Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit masih berdaun 2 helai 
  2. Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak minimal 25 cm persegi 
  3. Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus.
  4. Penanaman padi dengan perakaran yang dangkal 
  5. Pengaturan air, pemberian air maksimal 2 cm dan tanah tidak diairi secara terus-menerus sampai terendam dan penuh, namun hanya lembab (irigasi berselang atau terputus) 
  6. Peningkatan aerasi tanah dengan penggemburan atau pembajakan 
  7. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari 
  8. Menjaga keseimbangan biota tanah dengan menggunakan pupuk organik 
Keunggulan budidaya padi organik SRI
  1. Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus) 
  2. Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg per hektar. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang, dll. 
  3. Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal 
  4. Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton per hektar 
  5. Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan mikro-oragisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida. 


Langkah-langkah budidaya padi organik dengan metode SRI

Padi terdapat dua jenis, padi sawah dan padi gogo, bedanya terletak pada ada atau tidak adanya air. Pada saat ini kita akan membahas tentang budidaya padi sawah. Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter dari permukaan laut dengan temperatur 19-27 derajat celcius, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7. Sebelum memulai budidaya padi organik, langkah yang paling awal adalah menyiapkan benih yang baik. Seperti apa cara menyeleksi benih padi organik yang baik, silakah lihat di video berikut:

Tahap 1. Penyemaian
Hal pertama yang dilakukan dalam budidaya padi organik adalah menyemai benih. Kegiatan pertama adalah melakukan seleksi benih. Pemilihan benih ini dimaksudkan supaya kita menanam benih yang benar-benar baik. Benih padi yang digunakan untuk luasasn 200 meter persegi adalah sebanyak setengah kilogram.Untuk mengecek baik tidaknya benih bisa dilakukan dengan menguji benih dalam air, benih yang baik adalah benih yang tenggelam, sementara itu benih yang mengapung adalah benih yang kurang baik, biasanya benih yang mengapung adalah benih yang kopong ataupun benih yang telah tumbuh.
Untuk memastikan benih yang tenggelam tersebut benar benar baik, maka uji kembali benih tersebut dengan memasukannya kedalam air yang sudah diberi garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Benih  yang telah diuji lalu direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2-3 hari ditempat yang lembab hingga keluar calon tunas dan  kemudian disemaikan pada media tanah dan kemudian pupuk kompos sekitar sebanyak 10 kg.  Setelah umur semai 7-12 hari benih padi sudah siap ditanam. Berikut video cara penyemaian benih padi dengan metode SRI:

Tahap 2. Pengolahan lahan
Pengolahan lahan untuk penanaman padi sawah dilakukan dengan cara dibajak dan dicangkul. Biasanya dilakukan minimal 2 kali pembajakan yangkni pembajakan kasar dan pembajakan halus yang diikuti dengan pencangkulan: Total pengolahan lahan ini bisa mencapai 2-3 hari. Setelh selasai, aliri dan rendam dengan air lahan sawah  tersebut selama 1 hari. Pastikan keesokan harinya benih yang telah disemai sudah siap ditanam, yakni sudah mencapai umur 7-12 harian, perlu diingat, usahakan bibit yang disemai tidak melebihi umur 12 hari mengingat jika terlalu tua maka tanaman akan sulit beradaptasi dan tumbuh ditempat baru (sawah) karena akarnya sudah terlalu besar.  Silakan lihat video cara mengolah tanah dengan metode SRI:

Tahap 4. Penanaman
Sebelum ditanam, lakukan pencaplakan (pembuatan jarak tanam), jarak tanam yang baik adalah jarak tanam sesuai dengan metode SRI yakni tidak terlalu rapat, biasanya 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. Lakukan penanaman dengan memasukkan satu bibit pada satu lubang tanam. Penanaman jangan terlalau dalam supaya akar bias leluasa bergerak.

Tahap 5. Perawatan
Pada penanaman budidaya padi organik dengan metode SRI yang paling penting adalah menjaga aliran air supaya sawah tidak tergenang terus menerus namun lebih pada pengaliran air saja. Untuk itu, setiap hari petani biasanya melakukan control dan menutup serta membuka pintu air secara teratur.  Berikut panduan pengairan SRI:

Penanaman dangkal, tanpa digenangi air, mecek-mecek, sampai anakan sekitar 10-14 hari
Setelah itu, isi air untuk menghambat pertumbuhan rumput dan untuk pemenuhan kebutuhan air dan melumpurkan tanah, digenangi sampai tanah tidak tersinari matahari, stelah itu dilairi air saja.
Sekitar seminggu jika tidak ada pertumbuhan yang signifikan dilakukan pemupukan, ketika pemupukan dikeringkan dan galengan ditutup
Ketika mulai berbunga, umur 2 bulan, harus digenangi lagi, dan ketika akan panen dikeringkan
Pemupukan biasanya dilakukan pada 20 hari setelah tebar, pupuk yang digunakan adalah kompos sekitar 175-200 kg. Ketika dilakukan pemupukan sawah dikeringkan dan pintu air ditutup. Setelah 27 hari setelah tebar, aliri sawah secara bergilir antara kering dan basah.

Beberapa hama yang sering menyerang tanaman padi diantaranya burung, walang sangit, wereng dan penyakit ganjuran atau daun menguning.
Cara penanganannya bisanya dengan cara manual, membuat orang-orangan sawah untuk hama burung, penyemprotan dengan pestisida hayati seperti nanas, bawang putih dan kipait atau gadung, serta untuk penyakit biasanya dengan cara mencabut dan membakar tanaamn yang sudah terkena penyakit daun menguning. Untuk pencegahan harus dilakukan penanaman secara serentak supaya hama dan penyakit tidak datang, penggunaan bibit yang sehat, pengaturan air yang baik, dan dengan melakukan sistem budidaya tanaman sehat yang cukup nutrisi dan vitamin sehingga kekebalannya tinggi.
Hama lain yang sering menyerang adalah  hama putih,  thrips, wereng, walang sangit, kepik hijau,  penggerek batang padi, tikus , dan burung. Sementara itu penyakitnya adalah penyakit bercak daun coklat, penyakit blast, Busuk pelepah daun, fusarium, penyakit kresek atau hawar daun dan penyakit tungro.

Tahap 6. Panen
Padi mulai berbunga pada umur 2-3 bulan bulan dan bisa dipanen rata-rata pada umur sekitar 3,5 sampai 6 bulan bulan, tergantung jenis dan varietasnya. Pada luasan lahan 200 meter persegi, untuk padi yang berumur pendek (3,5 bulan) biasanya diperoleh 2 kwintal gabah basah, setara dengan 1, 5 kuintal gabah kering atau 90 kg beras.  Setelah dipanen, padi bisa dijual langsung, atau juga dijemur dulu sekitar 1-2 hari baru kemudian dijual, atau setelah dijemur digiling baru dijual berupa beras ataupun untuk dikonsumsi sebagiannya.


(sumber : http://alamtani.com/budidaya-padi-organik-metode-sri.html)

Print Friendly and PDF

TEKNOLOGI PTT PADI SAWAH

Teknologi PTT Padi Sawah

Budi Daya Tanaman Padi Sawah Dengan Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan upaya untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi petani dan lingkungan setempat. Pada dasarnya PTT bukanlah suatu paket teknologi, akan tetapi lebih merupakan metodologi atau strategi, bahkan filosofi bagi peningkatan produksi melalui cara mengelola tanaman, tanah, air dan unsur hara serta organisme pengganggu tanaman secara holostik dan berkelanjutan. Pendekatan yang ditempuh dalam penerapan komponen PTT bersifat: (1) partisipatif, (2) dinamis, (3) spesifik lokasi, (4) keterpaduan, dan (5) sinergis antar komponen.


BUDIDAYA PTT
Penerapan PTT berpedoman kepada :

  • Pemahaman masalah yang dihadapi petani, baik yang bersifat teknis maupun social-ekonomi 
  • Identifikasi peluang pengembangan usahatani dan pilihan teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat 
  • Pengelolaan secara terpadu antara tanaman dan sumber daya tanah dan air yang dikaitkan iklim dan ketersediaan sarana produksi setempat 
  • Pemilahan komponen teknologi ke dalam kelompok dasar dan pilihan 


Komponen Teknologi Dasar

Teknologi budi daya padi yang sangat dianjurkan dan berlaku hampir di semua lokasi, meliputi :

(1). Varietas Unggul Baru (VUB) : Pilihan varietas padi yang ditanam disesuaikan dengan kondisi lokasi setempat. Misalnya, apabila kondisi setempat merupakan daerah endemik penyakit hawar daun bakteri (HDB), maka dianjurkan menanam varietas yang tahan HDB seperti Inpari 6, Inpari 17, Angke dan Conde. Di daerah endemik penyakit tungro, dianjurkan menanam varietas tahan tungro seperti Kalimas dan Bondoyudo. Di daerah endemik hama wereng batang coklat (WBC) maka dianjurkan menanam varietas tahan WBC seperti Inpari 13.

(2). Benih bermutu dan bersertifikat : Benih bermutu adalah benih yang memiliki kemurnian dan daya tumbuh tinggi. Penggunaan benih bermutu menyebabkan tanaman tumbuh seragam sehingga memudahkan dalam pengelolaan dan memberikan hasil tinggi. Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi. Benih bersertifikat menjamin kebenaran suatu varietas tetapi tidak tercakup kedalamnya status vigor benih. Di antara gabah padi, sebagian terisi penuh, sebagian setengah terisi, dan sebagian hampa. Gabah yang setengah terisi tidak akan menghasilkan bibit dengan vigor baik. Agar bibit tumbuh sehat maka gabah yang setengah terisi ini harus dipisahkan dari gabah yang terisi penuh dengan menggunakan larutan dengan berat jenis di atas berat jenis air. Benih bersertifikat dijamin kemurniannya, sampai tingkat tertentu bersih dari biji-biji gulma, dan dengan persentase berkecambah sekurang-kurangnya 85%.

(3). Bahan organik : jerami yang dikembalikan ke sawah, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk kompos atau pupuk kandang dalam jangka panjang akan memperbaiki  sifat kimia, fisika dan biologi tanah, serta sumber nutrisi tanaman  yang akan bermanfaat terhadap kehidupan mikroorganisme tanah yang secara langsung maupun tidak langsung bermanfaat bagi tanaman

(4). Pengaturan populasi tanaman : dapat dilakukan antara lain melalui system tanam jajar legowo. Dengan cara system tanam jajar legowo, sampai batas tertentu, makin tinggi populasi tanaman makin tinggi hasil panen. Direkomendasikan menanam bibit per rumpun dengan jumlah yang lebih sedikit. Jumlah bibit yang ditanam tidak lebih dari 3 bibit per rumpun. Lebih banyak jumlah bibit per rumpun, lebih tinggi kompetisi antar bibit (tanaman) dalam satu rumpun. Gunakan jarak tanam beraturan seperti pada model tegel yang lajim digunakan seperti 20 cm x 20 cm (25 rumpun/m2), 25 cm x 25 cm (16 rumpun/m2). Apabila jarak tanam yang digunakan model legowo 4:1 dengan jarak tanam (20 cm x 10 cm) x 40 cm (36 rumpun/m2). Contoh: Legowo 2:1 (40 x 20 x 10 cm). Cara tanam berselang-seling 2 baris dan 1 baris kosong. Jarak antar baris tanaman yang dikosongkan disebut satu unit. Untuk Legowo 2:1, populasi (jumlah) tanaman tidak berubah (sama dengan 20 x 20 cm).

Keuntungan sistem jajar legowo adalah:

  1. semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir) 
  2. pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah 
  3. menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas, atau untuk mina padi 
  4. penggunaan pupuk lebih berdaya guna 
  5. Rumpun yang hilang karena tanaman mati, terlewat ditanami, atau rusak karena hama segera ditanami ulang tidak lewat dari 14 HST. Bibit yang ditanam berasal dari pembibitan yang sama digunakan untuk penanaman sebelumnya.tanam jajar legowo


(5). Pemupukan berdasar kebutuhan tanaman : pupuk anorganik diberikan dalam waktu, takaran, dan cara aplikasi yang tepat sesuai dengan varietas padi yang ditanam, status hara tanah, musim tanam, dan kebutuhan tanaman. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penggunaan pupuk N yang berlebihan. Kebutuhan pupuk N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Sedangkan untuk mengukur status hara P, K, dan pH tanah dapat digunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Penggunaan BWD. Bagan warna daun (BWD) adalah alat berbentuk persegi empat yang berguna untuk mengetahui status hara N tanaman padi. Pada alat ini terdapat empat kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua, yang mencerminkan tingkat kehijauan daun tanaman padi. Sebagai contoh, kalau daun tanaman berwarna hijau muda berarti tanaman kekurangan hara N sehingga perlu dipupuk. Sebaliknya, jika daun tanaman berwarna hijau tua atau tingkat kehijauan daun sama dengan warna di kotak skala 4 pada BWD berarti tanaman sudah memiliki hara N yang cukup sehingga tidak perlu lagi dipupuk N. Hasil penelitian menunjukkan, pemakaian BWD dalam kegiatan pemupukan N dapat menghemat penggunaan pupuk urea sebanyak 15-20% dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil.Penggunaan BWD untuk menentukan waktu aplikasi pupuk N bisa dilakukan melalui 2 cara. Cara atau opsi pertama yaitu waktu pemupukan ditetapkan lebih dahulu berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman (fixed time), yaitu pada tahap anakan aktif dan tahap pembentukan malai atau primordia. Nilai baca BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N yang telah ditetapkan sehingga menjadi lebih tepat sesuai dengan kondisi tanaman. Cara atau opsi kedua yaitu mulai ketika tanaman 14 HST, secara periodik 7-10 hari sekali dilakukan pembacaan daun tanaman padi menggunakan BWD sampai diketahui nilai kritis saat pupuk N harus diaplikasikan (real time). Untuk kondisi Indonesia disarankan untuk menggunakan fixed time.


Cara Penggunaan BWD (real time)

Sebelum berumur 14 hari setelah tanam pindah (HST), tanaman padi diberi pupuk dasar N dengan takaran 50-75 kg urea per hektar. Pada saat itu BWD belum diperlukan.

Pengukuran tingkat kehijauan daun padi dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 25-28 HST. Pengukuran dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali, sampai tanaman dalam kondisi bunting atau fase primordia. Cara ini berlaku bagi varietas unggul biasa. Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru, pengukuran tingkat kehijauan daun tanaman dilakukan sampai tanaman sudah berbunga 10%.

Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.

Taruh bagian tengah daun di atas BWD, lalu bandingkan warna daun tersebut dengan skala warna pada BWD.
Jika warna daun berada di antara dua skala warna di BWD, maka gunakan nilai rata-rata dari kedua skala tersebut, misalnya 3,5 untuk nilai warna daun yang terletak di antara skala 3 dengan skala 4 BWD.
Pada saat mengukur daun tanaman dengan BWD, petugas tidak boleh menghadap sinar matahari, karena dapat mempengaruhi nilai pengukuran.cara penggunaan bwd
Bila memungkinkan, setiap pengukuran dilakukan pada waktu dan oleh orang yang sama, supaya nilai pengukuran lebih akurat.
Jika lebih 5 dari 10 daun yang diamati warnanya dalam batas kritis atau dengan nilai rata-rata kurang dari 4,0 maka tanaman perlu segera diberi pupuk N dengan takaran:

50-75 kg urea per hektar pada musim hasil rendah (di tempat-tempat tertentu seperti Subang Jawa Barat, musim hasil rendah adalah musim kemarau).    Gambar : Cara Penggunaan BWD
75-100 kg urea per hektar pada musim hasil tinggi (di tempat-tempat tertentu seperti Kuningan Jawa Barat dan Sragen Jawa Tengah, musin hasil tinggi adalah musim kemarau).
100 kg urea per hektar pada padi hibrida dan padi tipe baru, baik pada musim hasil rendah maupun musim hasil tinggi.
Apabila nilai warna daun padi hibrida dan padi tipe baru pada saat tanaman dalam kondisi keluar malai dan 10% berbunga berada pada skala 4 atau kurang, maka tanaman perlu diberi tambahan pupuk N (bonus) dengan takaran 50 kg urea per hektar.

Cara Penggunaan BWD (fixed time)

Pembacaan BWD hanya dilakukan menjelang pemupukan ke dua (tahap anakan aktif, 23-28 HST) dan pemupukan ketiga (tahap primordial, 38-42 HST), dengan tujuan untuk menghaluskan dosis pupuk yang ditetapkan. Jika nilai pembacaan BWD berada di bawah nilai kritis (<4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dinaikkan sekitar 25% dari jumlah yang sudah ditetapkan. Sebaliknya jika hasil pembacaan BWD di atas nilai kritis (>4,0), maka dosis pupuk N yang diberikan dikurangi sekitar 25% dari jumlah yang sudah ditetapkan.fixed time

(6). Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)  berdasar pengendalian hama secara terpadu (PHT) : (1) Monitoring jenis hama dan penyakit, tingkat populasi dan kerusakannya, (2) Penggunaan beberapa  teknologi pengendalian secara terpadu seperti sanitasi, varietas tahan, pola tanam atau pergiliran gen/varietas, pengendalian hayati, penggunaan pestisida kimiawi secara bijaksana bila diperlukan (berdasar monitoring)




Komponen Teknologi Pilihan :

Teknologi anjuran ini dapat dipilih untuk diterapkan sesuai kondisi setempat, yaitu :

  1. Pengolahan tanah : pengolahan tanah sempurna atau olah tanah minimal sesuai dengan musim dan pola tanam 
  2. Bibit muda (umur kurang dari 21 hari) : bibit muda lebih cepat tumbuh kembali (recovery) dan lebih cepat membentuk anakan baru, lebih tahan stress  akibat pencabutan dan pengengkutan 
  3. Tanam 1-3 bibit per rumpun : selain menghemat bibit, juga mengurangi persaingan antar bibit sehingga pertumbuhan lebih cepat 
  4. Pengairan yang efektif dan efisien : dapat dilakukan dengan cara pengairan secara berselang atau basah kering. Dengan menanam alat tabung paralon berlubang pada petak sawah dapat digunakan untuk memantau dan menentukan apakan tanaman padi sudah perlu diairi atau belum. 
  5. Penyiangan dengan alat landak atau gasrok : penggunaan alat ini hemat tenaga kerja dan ramah lingkungan 
  6. Panen tepat waktu dan perontokan gabah sesegera mungkin : panen pada waktu 90-95% gabah telah bernas dan berwarna kuning, gunakan alat perontok (thresher) 




Sumber: Sarlan Abdulrachman, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jl. Raya IX Sukamandi Subang








Print Friendly and PDF

PADI GOGO

Budidaya Padi Gogo


Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo
Komponen Teknologi PTT Padi Gogo
Komponen utama teknologi dari model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo adalah :

   =>Varietas unggul dengan system mozaik (3-4 varietas per petani)
   =>Benih bermutu dan berlabel
   =>Sistem tanam jajar legowo atau tegel
   =>Pemupukan berimbang dan penambahan bahan organic
   =>Konservasi tanah dan air
   =>Pengelolaan hama secara terpadu
   =>Panen dan pasca panen



Budidaya Padi Gogo Dengan Pendekatan Model PTT Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan dua kali, pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah turun hujan pertama, dan pengolahan kedua saat menjelang tanam,
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul, atau traktor, atau ternak secara disingkal,
Kemudian lahan dibiarkan atau dikelantang,
Apabila sudah turun hujanterus menerus atau kontinyu yang memungkinkan untuk tanam, lahan diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan sambil meratakan tanah sampai siap tanam,
Apabila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama lakukan pembuatan teras gulud atau perbaikan teras yang rusak (konservasi lahan),
Pada guludan atau bibir teras usahakan menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul dan dapat dikombinasikan dengan tanaman legume pohon, sehingga secara periodic dapat dipangkas untuk pakan ternak,
Pada lahan yang terbuka dan relative datar perlu dibuat bedengan memanjang, dengan lebar bedengan sekitar 5 meter. Antara bedengan dibuat saluran sedalam 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase. Pembuatan drainase sangat diperlukan, karena bila terjadi hujan terus menerus akan terjadi genangan yang menyebabkan kelembaban tanah yang tinggi yang dapat merangsang munculnya jamur upas yang dapat menyerang padi gogo.



Penanaman

Di lahan kering, kegiatan tanam baru dapat dilakukan bila curah hujan sudah cukup stabil atau curah huja mencapai 60 mm.dekade (10 hari), biasanya dicapai pada akhir bulan Oktober sampai akhir Nopember,
Penanaman benih padi gogo menggunakan alat bantu tugal,
Benih ditanam dengan kedalaman sekitar 5 cm (cukup dalam untuk menghindari dari gangguan semut, dll), kemudian ditutup dengan tanah,
Dianjurkan untuk menanam lebih dari 3 (tiga) varietas padi gogo dan setiap varietas ditanam pada bedengan yang berbeda (system mozaik). Penanaman dengan system mozaik akan mengurangi terjadinya ledakan penyakit blas.
Penanaman sebaiknya menggunakan system tanam jajar legowo (2:1 atau 4:1) dengan jarak tanam 30 x 20 x 10 cm,
Untuk membuat larika system legowo dapat dibantu dengan alat semacam caplak untuk padi sawah yang mempunyai 4 titik/mata berjarak 20 cm dan 30 cm, ditambah 2 titik paku berjarak 6-7 cm, dengan ketinggian tersebut pada saat operasional, alat akan membentuk larikan dengan kedalaman 4-5 cm dan 2 garis paling pinggir sebagai panduan untuk operasional alat selanjutnya,
Bila keadaan lahan tidak datar atau berlereng, sebaiknya pengaturan barisan tanaman harus memotong lereng, agar bila terjadi hujan yang relative tinggi dapat mengurangi terjadinya aliran permukaan yang menyebabkan erosi,
Setelah terbentuk larikan dengan jarak tanam legowo, benih ditanam sebanyak 4-5 butir/lubang, kemudian ditutup dengan tanah.


Pemupukan

Pemberian pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah,
Waktu pemupukan menunggu sampai kondisi lahan dalam keadaan lembab. Bila dilakukan dalam kondisi kering, maka kadar air tanah dan yang ada di jaringan tanaman juga akan terserap oleh pupuk yang diberikan. Bila hal itu terjadi dan berlangsung lama akan terjadi plasmolisis dan tanaman akan layu bahkan dapat mematikan tanaman.
Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD),
Secara umum pupuk yang diperlukan untuk padi gogo adalah : 90 kg N/ha (200 kg urea/ha), 36 kg P2O5/ha (100 kg SP36/ha), 60 kg K2O/ha (100 kg KCl/ha),
Waktu pemupukan adalah : 10-15 hst dengan jenis dan takaran pupuk yang diberikan adalah 50 kg Urea, 100 kg SP 36, dan 100 kg KCl/ha,
Pupuk urea susulan diberikan sesuai BWD.



Pemeliharaan

Untuk mengurangi kerugian akibat dari gangguan hama dan penyakit, perlu dilakukan strategi pengendalian yang terencana, dengan menerapkan konsep pengendalian hama secara terpadu (PHT),
Monitoring secara terjadwal harus dilakukan agar keberadaan hama dan penyakit bias diketahui sejak awal,
Untuk mengurangi penyakit blas (penyakit utama pada padi gogo) gunakan varietas tahan penyakit,
Pengendalian gulma pada pertanaman padi gogo sebaiknya dilakukan lebih awal, yaitu pada umur 10-15 hari setelah tanaman tumbuh atau menjelang pemupukan pertama. Penyiangan kedua dilakukan pada umur 30-45 hari atau menjelang pemupukan susulan pertama,
Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan kored. Sebaiknya ada atau tidak ada gulma tanah tetap dikored, agar sedikit dapat memotong akar tanaman padi yang diharapkan akan menstimulasi pertumbuhan akar baru.


Panen dan Pasca Panen

Panen dapat dilakukan bila sudah melebihi umur masak fisiologis atau lebih dari 95% gabah telah menguning, pada umur 110-130 hari tergantung pada varietas yang ditanam.
Pemanenan VUB biasanya dilakukan dengan system babat bawah, kemudian digebot seperti panen pada padi sawah,
Hasil panen dapat langsung dibawa ke rumah, dan diproses dengan dilakukan penjemuran,
Setelah gabah kering (kadar air 14%), gabah dimasukkan kedalam karung, kemudian disimpan atau dijual.




Kamis, 26 Mei 2016

Print Friendly and PDF

KEADAAN UMUM KEC. CIDOLOG


Jarak Kecamatan Cidolog dari ibu kota kabupaten sekitar 75 km, sedangkan  jarak desa dengan ibukota kecamatan terjauh sekitar 18 km, 
Berikut adalah batas-batas wilayah administrasi Kecamatan Cidolog :
Arah Utara berbatasan dengan Sagaranten, arah Selatan dan Barat berbatasan dengan Tegalbuled, dan arah Timur berbatasan dengan Cidadap.
Jumlah dan Keadaan Desa 
1. Desa Cidolog dengan nomor Register 32.02.43.2001 dengan luas lahan 1.105 Ha 
  • Rata-rata jenis tanah desa cidolog adalah podsolik merah kuning sebesar 50%, kemudian grumusol 25%, Latosol 15 % dan Lain-lain 10%
  • Berdasarkan penggunaan lahan desa cidolog memiliki luas lahan sawah sebesar 216,11 Ha, Tegalan 430 Ha, Pemukiman 53,6 Ha, Kolam 2,1 Ha, Perkebunan Rakyat 96 Ha, Perkebunan Swasta 225 Ha, Hutan Rakyat 73,5 Ha, dan Hutan Produksi (Milik Negara) 68 Ha
2. Desa Cipamingkis dengan nomor Register 32.02.43.2002 dengan luas lahan 972 Ha
  • Rata- rata jenis tanah Desa Cipamingkis adalah podsolik merah kuning sebesar 40%, kemudian grumusol 35%, Latosol 10 % dan Lain-lain 15%
  • Berdasarkan penggunaan lahan Desa Cipamingkis memiliki luas lahan sawah sebesar 276,27 Ha, Tegalan 375 Ha, Pemukiman 34,2 Ha, Kolam 3,2 Ha, Perkebunan Rakyat 32 Ha, Hutan Rakyat 92,4 Ha, dan Hutan Produksi (Milik Negara) 87 Ha
3. Desa Cikarang dengan nomor Register 32.02.43.2003 dengan luas lahan 2.778 Ha
  • Rata- rata jenis tanah Desa Cikarang adalah podsolik merah kuning sebesar 40%, kemudian grumusol 15%, Latosol 20 % dan Lain-lain 25%
  • Berdasarkan penggunaan lahan Desa Cikarang memiliki luas lahan sawah sebesar 264,3 Ha, Tegalan 1.050 Ha, Pemukiman 42,5 Ha, Kolam 3,1 Ha, Perkebunan Rakyat 130 Ha, Hutan Rakyat 74,4 Ha, dan Hutan Produksi (Milik Negara)  1.243 Ha
4. Desa Tegallega dengan nomor Register 32.02.43.2004 dengan luas lahan 984 Ha
  • Rata- rata jenis tanah Desa Tegallega adalah podsolik merah kuning sebesar 25%, kemudian grumusol 20%, Latosol 35 % dan Lain-lain 20%
  • Berdasarkan penggunaan lahan Desa Teallega memiliki luas lahan sawah sebesar 174,27 Ha, Tegalan 209 Ha, Pemukiman 28,7 Ha, Kolam 2,3 Ha, Perkebunan Rakyat 18 Ha, dan Hutan Rakyat 62,6 Ha.
5. Desa Mekarjaya dengan nomor Register 32.02.43.2005 dengan luas lahan 1.167 Ha
  • Rata- rata jenis tanah Desa Mekarjaya adalah podsolik merah kuning sebesar 40%, kemudian grumusol 25%, Latosol 25 % dan Lain-lain 10%
  • Berdasarkan penggunaan lahan Desa Mekarjaya memiliki luas lahan sawah sebesar 220,4 Ha, Tegalan 505 Ha, Pemukiman 25,7 Ha, Kolam 3,8 Ha, Perkebunan Rakyat 42 Ha, dan Hutan Rakyat 54,5 Ha.

Catatan : 85 % lahan pertanian kecamatan cidolog adalah tadah hujan.
Peta Kecamatan Cidolog: 
https://www.google.co.id/maps/place/Cidolog,+Sukabumi,+West+Java/@-7.2995907,106.7893599,12z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e680d9c9f66f7bf:0xe04594481ea605b7!8m2!3d-7.2777148!4d106.8532381


Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | free website templates | Free Vector Graphics | Web Design Resources.